Mahameru dan 5 cm
Mahameru atau yang lebih dikenal dengan Puncak Gunung Semeru,
gunung tertinggi di Jawa. Belakangan sedang ramai diperbincangkan.
Biasaya Mahameru hanya ramai jadi topik pembicaraan sekelompok penggiat
kegiatan alam, atau menyebut dirinya ‘Pencinta Alam’, tapi kali ini
perbincangan telah melenceng memasuki ranah yang berbeda, yaitu
sekelompok awam, yang selama ini tak terpikirkan menjejakkan kakinya di
gunung, apalagi gunung tertinggi di Jawa, berkat sebuah buku yang
difilmkan berjudul 5 cm.
Semeru adalah rumah dewa, tanah tertinggi di tanah jawa, Mahameru adalah
tempat yang suci. Sedemikian Agungnya Mahameru, sehingga menjadikan
salah satu impian pendakian bagi para pencinta alam, menjadi tempat
ritual yang disucikan, bahkan ada salah satu sahabat yang melamar
pasangannya di Ranukumbolo, dan sempat juga melihat cuplikan photo-photo
pasangan yang menikah di puncak Mahameru.
Gunung Semeru dengan puncak Mahameru, saya pernahmenggapainya lebih dari
10 tahun lalu, kala itu saya memberanikan diri untuk ikut dalam
pendakian yang diadakan oleh abang2ku di salahsatu kelompok pencinta
alam - fyi saya tak pernah menjadi member salah satu kelompok penggiat
pencinta alam - , salah satu alasan terbesarku untuk ikut pendakian ke
Semeru adalah ‘membayarkan hutang janji’ pada sahabatku Alm. Hafidhin
Royan yang meninggal pada peristiwa 12 Mei’98, saat itu kami dan
beberapa sahabat di kampus berencana untuk mendaki Semeru di liburan
semester.
Pendakian ke Semeru tidak bisa di anggap remeh, apalagi untuk saya yang
jarang-jarang mendaki gunung. Sebenarnya tidak cukup PD untuk mengikuti
pendakian, sehingga untuk membantu meningkatkan kekuatan fisik, saya di
latih oleh abang-abangku untuk maraton, dan olah raga berat lainnya,
rutin selama satu bulan menjelang keberangkatan menuju gunung Semeru.
Saya sebenarnya bukan pendaki gunung, saya hanya penikmati jalan-jalan,
sehingga kemanapun hayuk. Pengalaman mendaki Semeru dengan
pemandangannya yang spektakuler merupakan salah satu pengalaman yang
luarbiasa yang pernah saya lakukan, kenangannya terus melekat, walau
sudah bertahun-tahun lalu, hingga euforia film 5 cm menyentil kami.
Kenangan indah dan cerita-cerita selama pendakian Semeru kembali
terbuka, seperti membuka photo lama yang penuh cerita.
Sebelum menonton film 5 cm saya sudah membaca bukunya, terlalu drama
buat saya, sehingga saya skip beberapa bab di awal demi langsung membaca
cerita perjalanan di Semeru. Di buku tertulis secara detail landscape
ranu pane, perjalanan menuju ranu kumbolo melintasi jalur sempit
(jalurnya masih sempit dan bersisian dengan jurang) dan pesona sunrise
di Ranu Kumbolo. Derita mendaki dari kali mati hingga puncak dan
melewati arcopodo dan cemoro tunggal (beneran satu-satunya pohon cemara
di tengah hamparan pasir). Semua tulisan pada buku 5 cm bagi saya
seperti membaca pengalaman pribadi yang pernah saya alami saat mendaki
Mahameru.
Lalu filmnya tayang, dan begitu menggelegar, di beberapa studio
bahkan di tayangkan pada 2 cinema. Abang-abangku seperjalanan ke Semeru
tiba-tiba menyolek ngajak nonton bareng, demi memuaskan kerinduan kami
pada Semeru.
Tapi….ternyata kami menonton sinetron berlatar kecantikan Semeru. View
Semeru cukup membayar kerinduan kami akan Ranu Kumbolo, Tanjakan Cinta,
Kalimati dan Mahameru, tapi jalan cerita….zzzz….pas
Entahlah, saya bukan penganalisa film, sekali lagi saya Cuma penikmat
saja. Dari keseluruhan film, bagian yang kami tunggu-tunggu hanya
saat-saat di Semeru, pemandangan keindahan alamnya, selebihnya biasa
saja. Bagi kami film ini adalah sangat sinetron sekali, seperti tokoh
perempuan naik gunung dengan make up dan asesoris (boro2 make up, pake
sunblock aja dah syukur banget saat pendakian), baju yang bagi saya,
tidak nyaman untuk pendakian (celana jeans ketat….haallloooooww…ini
gunung neng bukan mol) serta tas asesories yang terlihat ringan dan
kosong menjadi pemanis punggung…alih2 nonton, kami malah jadi ngobrol
bisik2 dan cekikian sama tetangga melihat penampilan yang sangat
sinetron tersebut, heehheheee
| Mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya |
Konon, menurut info di balik layar, selama pembuatan film 5 cm, kawasan
TN Semeru menjadi tercemar, rusak dan bersampah berat. Entah apa yang
mereka (pemain, crew dan pendukung film 5 cm) lakukan pada tempat yang
begitu indah dan damai, rusak oleh suatu komersialitas dan kapitalitas
dengan menjadikannya tempat sampah raksasa. Entah kenapa sepertinya
menyampah adalah sesuatu yang ‘Indonesia Banget’…malu jadinya. Tidak
seharusnya sampah mengotori Taman Nasional Semeru, sekiranya saja mereka
(pemain, crew dan pendukung film 5 cm) peduli dan mau mengenal apa itu
Taman Nasional Semeru, seharusya bukan sampah yang mereka berikan, tapi
ternyata mereka tak perduli.
Jangan sampai seusai menonton 5cm, berbondong-bondonglah orang-orang
tua, muda, miskin, kaya tanpa pengawasan dan pengalaman mendaki Semeru,
seakan mendaki Semeru begitu mudahnya seperti yang perpapar di film 5 cm
dan bertindak semena-mena terhadap tanah cantik itu. Sekedar untuk
diketahui bahwa setiap tahun selalu ada korban dalam pendakian Gunung
yang ceroboh dan tak menghargai alam, dimanapun itu.
Tapi…bagaimanapun, saya salut untuk seluruh pemain dan crew film 5 cm
berhasil menggapai puncak Mahameru, dengan apapun daya usahanya, karena
Mahameru bukan sembarang tempat yang mudah digapai….
Ada sebuah lagu yang menjadi lagu wajib kami untuk mengenang kecantikan Semeru, berikut petikan baitnya :
Di jenjang Desember kudatang padamu
Kubimbing kau ke lereng Semeru
Kubelai rambut nan indah, kau tertunduk malu
Oh indahnya Mahameru
