Pendaki Pendamping Idaman

Gagah berani menerjang trek-trek pendakian yang cukup menguras tenaga, menapakkan kaki di puncak-puncak tertinggi, bersujud syukur atas keberhasilan yang telah ia capai, yang tak keberatan untuk membawa beban yang cukup berat dipundakknya, mereka yang rela melepas segala harta benda jauh dari hiruk pikuk keramaian, dan untuk bertahan hidup berhari-hari di hutan, semua dengan satu tujuan yaitu untuk menaklukan diri sendiri. Penasaran kan kenapa para pendaki bisa dikatakan pendamping hidup idaman? Ini dia alasannya:
  • Dia punya target hidup, karena dia terbiasa menetapkan target pendakian.

Orang yang sukses adalah mereka yang berani menetapkan target dan menepatinya. Ya iyalah, target gunanya untuk memacu semangat kita agar lebih berusaha keras untuk mencapai tujuan. Pendaki gunung sudah akrab dengan kebiasaan yang satu ini. Mereka terbiasa menetapkan tujuan akhir yang harus dicapai dalam setiap pendakian.
Sebelum memulai sebuah pendakian, ia akan memperhitungkan beralama waktu yang dibutuhkan untuk pendakian tersebut. Ia juga akan memperhitungkan seberapa besar tenaga yang diperlukan. Ia biasa dengan tepat menetapkan target sesuai kemampuan (sumber daya). Tentunya kemampuan ini sangat baik jika diaplikasikan dikehidupan sehari-hari. So, kamu nggak perlu lagi buat khawatir punya pacar seorang pendaki. Karena nasibmu pasti terjamin, dengan target hidup yang telah dipatok oleh si pendaki tersebut.

  • Dia punya semangat yang membara untuk menaklukan dirinya sendiri.

Kalian pastinya tau, musuh terbesar dalam hidup ini bukanlah orang lain atau apalah yang ada disekitar. Melainkan musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Inilah filosofi yang dipegang teguh oleh kebanyakan pendaki. Pendakian dianggap sebagai proses untuk menaklukan diri sendiri. Memacu diri untuk mengalahkan rasa letih demi mencapai tujuan.
Jika pasanganmu seorang pendaki, pastinya dia tau kalau suatu tujuan nggak akan pernah bisa tercapai jika dia tidak keras pada dirinya sendiri. Dalam kepalanya selalu bergaung suar; "Ayolah, sia-sia kalau kamu berhenti sampai disini. Percuma usahamu yang udah sampai sini jika nggak kamu tuntaskan!" setiap kakinya terasa berat dan tak mampu lagi untuk melangkah. Ia tentunya nggak akan manja hanya karena capek, lapar, haus, ataupun dingin yang membuat dia tidak bisa meraih tujuannya. Ia bisa mengontrol dirinya untuk terus berjuang dan mengalahkan semua ego yang dimilikinya, dan berhasil mencapai tujuan.

  • Tentunya rendah hati.

Pendaki sejati tidak pernah merasa dirinya lebih hebat dari orang lain. Walaupun dia sudah berhasil berdiri di puncak tertinggi, dia tidak akan merasa lebih baik dari mereka yang belum. Karena mereka tahu diatas langit, pasti masih ada langit diatasnya. Dia justru sadar bahwa ditenganh gansanya alam, dia bukanlah apa-apa.
Jika kamu memutuskan untuk berpasangan dengan seorang pendaki, jangan bosan jika dia mengingatkanmu agar jangan merasa diatas orang lain. Kebijaksanaan ini dia peroleh dari alam, dari proses pendakian yang telah dilaluinya.
Dia sudah pernah menemukan pendaki yang berusia lanjut usia yang masih punya semangat yang berkobar untuk terus mendaki, dia juga pernah merasakan saat-saat hampir mati karena hipotermia, dia juga pernah merasakan tersesat di hutan belantara dan hanya mengandalkan instingnya untuk menemukan jalan yang benar. Di depan alam, dia sadar semua bisa terjadi kapan saja karena dia bukanlah apa-apa.

  • Mempunyai jiwa pejuang.

Apakah kamu perempuan yang mengharapkan punya kekasih yang super tangguh? Ataukah kamu lelaki yang paling tidak mau punya pacar manja? Jika memang semangat juang adalah hal yang wajib ada dalam diri calon pasanganmu, maka menentuka kekasih seorang pendaki ialah hal yang tepat.
Dia adalah orang yang bisa bertahan dalam situasi sulit. Rasa ingin berjuang dalam dirinya sudah tidak diragukan lagi. Pasanganmu pernah merasakan telapak kakinya lecet dan sakit untuk berjalan karena rute turun yang terlalu curam. Pilihannya hanya terus berjuang atau berhenti dan mati hanya karena luka kecil. Seorang pendaki sejati tentunya akan terus berjuang apapun kendala yang dia hadapi akan dia terjang.

  • Bisa diandalkan.

Pasangan yang bisa diandalkan adalah dia yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Dia sudah tak lagi galau hidupnya mau dibawa kemana, dia sudah tahu apa yang benar - benar ingin dia lakukan dalam hidupnya. Proses mendaki gunung memberikan seseorang kesempatan untuk berdialog dengan dirinya sendiri dan menyelesaikan ganjalan dalam hati.
Ditengah alam, dia akan mengalami monolog dengan sisi paling jujur dalam dirinya. Sambil menahan lelah dan teriknya sengatan Matahari, dia akan paham bahwa  hidup harus benar - benar diperjuangkan sesuai impian. Tak ada hidup yang pantas dijalani dengan kepuasan setengah hati.
Kamu  tak perlu lagi takut kehilangan dia ditengah perjalanan, atau tiba - tiba harus banting setir 180 derajat. Dia sudah menetapkan rute yang ingin ditempuh. Bahkan jauh sebelum bertemu Anda.

  • Punya idealisme yang kuat.
Idealisme, adalah kemewahan yang kerap diagungkan oleh para pendaki gunung. Hidup susah tak masalah, asal bisa hidup dengan kepala tegak. Karena seorang pendaki; "Tunduk ketika naik, dan tegak dikala turun. Biasa mengakrabi ganasnya alam membuat mereka ingin menjadi sebaik - baik manusia. Mereka akan ogah ikut dalam aksi kotor demi keuntungan pribadi. Pendakian mengajarkan bahwa hidup dan mati itu jaraknya hanya setipis sehelai rambut.
Memiliki pasangan seorang pendaki akan mengajarkanmu hidup yang sederhana, tapi penuh arti. Mereka yang belajar di alam akan menyadari bahwa jadi manusia berguna itu lebih penting daripada menumpuk harta bagi diri sendiri. Karena pada akhirnya, kamu cuma punya integritas yang bisa dibawa sampai mati. 

  • Kemampuan kalkulasinya bagus.
Suka benci sama pasangan yang tak bisa mengatur jadwalnya sendiri? Atau kamu paling anti sama orang yang tak bisa mengatur pengeluarannya? Sama pendaki gunung, hal-hal menyebalkan yang berkaitan dengan masalah kalkulasi akan jarang Anda temui. Kegemarannya mendaki membuat dia ahli dalam membuat estimasi
Dalam sebuah pendakian, terutama pendakian dalam tim, dia akan memperhitungkan dengan cermat soal waktu untuk menyelesaikan tiap etape. Juga soal besarnya biaya yang harus dibayar tiap anggota tim untuk belanja logistik. Selain punya semangat juang yang tinggi, dia juga ahli dalam merencanakan sesuatu. Kualitas persiapan dan aksinya seimbang. Nah, kurang apa lagi?

  • Luwes tapi efektif.
Pendaki gunung adalah orang yang terbiasa dengan perubahan. Dia bisa dengan cepat menyesuaikan diri saat ada perubahan cuaca yang membuat perjalanan terhenti. Walau mengeluarkan kerangka tenda dan mendirikan tenda itu ribet, tapi dia tak akan mengeluh saat terpaksa harus nge-camp karena cuaca buruk.
Dia adalah pribadi yang fleksibel namun di lain sisi juga sangat efektif dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Walau harus mengubah ritme perjalanan, bukan berarti waktu pendakian molor. Dia harus tetap memperhitungkan kondisi logistik yang kian menipis. Kualitas macam ini tidak dimiliki oleh semua orang. Dan biasanya, mereka yang bisa dengan luwes membawa diri namun tetap efektif bekerja adalah mereka yang bisa sukses.

  • Tidak mudah terjebak rasa nyaman.
Ketika sudah mendapat posisi yang mapan, apa yang biasa dilakukan oleh orang kebanyakan? Menikmati dan berleha-leha, bukan? Masuk kerja-pulang sore–menunggu macet di mall-membelanjakan uang-berharap akhir pekan datang–kembali menyambangi mall di akhir pekan. Apa iya kamu mau hidup berakhir seperti itu?
Menjalani hubungan cinta dengan pendaki gunung akan membuat kamu belajar untuk terus memperluas batas kenyamanan. Pendakian mengajarkan mereka bahwa pelajaran didapat justru dari usaha mengalahkan kesulitan. Mereka akan menantangmu untuk mengalahkan batas kemampuanmu sendiri. Tanpa Anda sadari, perlahan kamujuga akan belajar bahwa kenyamanan adalah jebakan yang harus dikalahkan kalau tidak mau jadi pribadi yang tertinggal.

  • Bisa menerima apa-adanya.
Pendakian akan mempertemukan dia dengan banyak tipe orang dari berbagai latar belakang. Mulai dari yang kepribadiannya hangat dan oke banget, sampai yang punya kelakuan unik dan butuh perlakuan khusus. Apalagi diatas gunung konon seseorang akan benar-benar terlihat kepribadian aslinya. Demi lancarnya perjalanan, dia akan berusaha menyesuaikan diri dengan karakter orang-orang tersebut.
Sebenarnya pacaran itu tak ubahnya sebuah pendakian. Demi bisa sukses, kamu harus pintar-pintar mengatur langkah agar sesuai dengan ritme teman seperjalanan. Bersama pasangan yang kerap mendaki gunung, kamu tak perlu khawatir dia ilfeel karena kelakuan anehmu. Kamu bisa dengan bebas menunjukkan diri kamu yang sesungguhnya. Dia bisa memahami bahwa semua orang lahir dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing.

  • Romantis.
Walau tampangnya gahar, kulitnya hitam karena keseringan terpapar Matahari, tapi hati anak gunung itu lembut dan hangat. Kalau kebanyak orang menghadiahi pasangannya dengan boneka atau bunga dan coklat, dia akan menghadiahimu foto matahari terbit ataupun menuliskan namamu di puncak tertinggi. Dia juga pandai merangkai kata-kata indah yang tentunya membuatmu merasa dimabuk asmara. 

  • DIa paham makna "Rumah" dan "Pulang".
Seorang pendaki gunung tahu benar arti hangatnya sebuah rumah. Pada pendakian-pendakian panjangnya dia sering duduk, memandang bintang dari dataran setinggi 3000 meter diatas permukaan laut, membayangkan hangatnya rumah yang ditinggalkan. Tidak jarang rasa rindu ingin pulang jadi kekuatan saat langkahnya sudah sempoyongan dihadang trek pasir. Karena puncak bukanlah tujuan utama, melainkan dia berangkat untuk kembali pulang dengan selamat.
Dia akan menghargai makna “pulang”, “rumah” dan orang - orang yang berada di dalamnya. Beruntunglah kamu jika pada pelukanmu lah dia selalu menemukan hangatnya rumah yang jadi sumber semangatnya menuntaskan pendakian.

Sebuah negara tidak akan pernah kehilangan pemimpinnya yang berwibawa jika pemudanya masih suka menjelajah hutan dan mendaki gunung. (Henry Dunnant)

The Real Adventure (Sumbing 3371 Mdpl)

            Kisah ini terinspirasi dari pengalaman pribadiku yang mungkin tidak akan pernah terlupakan sepanjang hidup. Kisah yang membuatku semakin cinta akan Tanah Air Tercinta, Indonesia. Kisah yang membuatku semakin menghargai alam. Ketika orang bertanya; “Apa si untungnya mendaki? Buang-buang waktu saja.” Mereka cuma belum merasakan betapa asiknya mendaki itu. Kaki yang akan melangkah lebih lama dari biasanya, punggung yang akan menahan beban lebih berat dari biasanya, serta mulut yang akan selalu memanjatkan doa. Kebersamaan, team work, jiwa pemimpin, semua nampak jelas.
 Kisah ini berawal dari obrolan ringan dengan temanku saat di sekolah. Sebelumnya dia pernah mendaki Gunung Merbabu. Dia bercerita tentang pendakiannya. Oh iya, nama temanku itu Panji. Aku pun tertarik dengan ceritanya. Akhirnya setelah beberapa waktu kami berbicara, timbulah ide di benak kami untuk melakukan pendakian. Sebenaranya saat itu aku Cuma ngikut-ngikut aja si  mau mendaki beneran apa enggak.
Saat sampai rumah, hapeku bordering tanda ada sms masuk. Dan benar itu dari Panji. Kurang lebih begini isinya “Pie koe fix ndaki to? Iki rencana arep munggah Sumbing.” Yang dalam bahasa Indonesianya; “Fix jadi ikut mendaki kan? Ini rencana mau naik Sumbing.” Dalam hati sedikit ragu aku untuk meng-iyakan ajakannya. Tapi setelah aku pikir-pikir seru juga habis setres-setres dengan Ujian Kenaikan Kelas Kemarin, apa salahnya buat me-refresh otak dengan suasana yang alam banget. Oke, aku putuskan untuk meng-iyakan ajakan itu. Rencana pendakian tanggal 20-21 Juni 2014. Masih ada waktu sekitar seminggu lebih untuk mempersiapkannya. Baik siap-siap fisik, maupun ongkos. Rencananya, ada 6 orang termasuk aku yang akan ikut. Satu temanku Panji tadi, dan yang 4 kalau tidak salah alumni sekolahku.  Sehari sebelum hari H, ternyata yang fix berangkat Cuma 4 orang. Yang terdiri dari aku sendiri Ivan Andika, Panji Krisna, Iwan Gecol, dan yang terakhir Ruli Pete.
Jam 1 kami kumpul di tempat Iwan, dan jam 2 kami berangkat ke Garung, basecamp pendakian Sumbing, Wonosobo. Jogja-Wonosobo kami tempuh selama kurang lebih 4 jam, menggunakan sepeda motor. Jam 2 berangkat, dan jam 6 kami sudah sampai di basecamp. Sampai disana langsung sholat magrib. Berhubung agamaku Katolik, aku ditugaskan untuk menjaga barang-barang bawaan kami. Setelah salat, kami sarapan dulu di basecamp. Nasi goreng, menu kami waktu itu. Rehat-rehat sejenak sebelum berjuang habisan-habisan mencapai puncak. Setelah selesai makan, Iwan mebayar biaya retribusi masuk kepada petugas.
Waktu menunjukkan pukul 19.45 WIB. Kami bergegas untuk ke depan basecamp, dan segera memulai pendakian. Sebelum pendakian dimulai, doa terlebih dahulu diwajibkan agar pendakian berjalan dengan lancar dan selamat. Moto kami waktu itu; “Jangan mengambil apapun kecuali gambar(foto), Jangan membunuh apapun kecuali waktu, Jangan meninggalkan apapun kecuali jejak.” Dan tambahan motoku sendiri; “Puncak bukanlah tujuan utama, kami berangkat untuk kembali pulang dengan selamat.” Kami memulai perjalanan sekitar pukul 8 malem, menggunakan Jalur Lama. Fyi, di Sumbing ini ada 2 jalur, yaitu Jalur Baru dan Jalur Lama yang nantinya bertemu di Pestan. Tujuan pertama kami adalah Pos 1, yang kira-kira berjarak 3 km dari Basecamp dari total 7 km hingga Puncak Sumbing. 
Cukup Panjang. Kami melewati pemukiman penduduk, ladang yang berisi sayuran kubis, sawi, dan tanaman-tanaman yang hidup di daerah dingin hingga kilometer 2. Rute ini berupa jalanan batu yang rapi, karena merupakan jalan petani juga. Selama melintasi ladang petani ini mungkin kami berhenti lebih dari 3 kali. Namanya juga pendakian kurang persiapan fisiknya. Si Ruli Pete juga udah mulai ngerasa sesak nafasnya. Tak selang berapa lama setelah kami mengakhiri jalan batu, kami mulai memasuki jalanan tanah dengan tanjakan yang mulai kerasa. Satu yang ada di benak kala itu; “Pos 1 mana ini, nggak nyampai-nyampai.” Dan alhamdulillah setelah melewati 3 atau 4 tanjakan, kami pun tiba di Pos 1 Malim. Di pos 1 kami istirahat sejenak. Tak lama kami berada di Pos1, hanya minum seperlunya kemudian bergegas untuk melanjutkan pendakian menuju Pos 2.
 Pendakian terasa sangat berat dengan trek yang nanjak terus mulai dari basecamp tadi. Emang trek Sumbing nggak bisa bohong, sedikit sekali jalan landai di sini yang kami sebut bonus. Kami pun sering berhenti di antara pepohonan. Untungnya cuaca saat itu cukup bersahabat, tidak ada kabut yang menutupi rute pendakian. Kami menuju Pos 2 Genus yang berjarak sekitar 1 kilometer dar Pos 1, dengan menapaki jalan tanah yang sudah dibentuk seperti tangga. Istirahat sebentar, cek peta, kemudian kami langsung meneruskan pendakian. Sampai sudah kami di Pos 2 Genus. Disana kami bertemu Mapala dari UMS Solo yang sedang ngecamp. Kami pun memutuskan untuk mendirikan tenda disana juga, mengingat sudah pukul 12 malam kami sampai di Pos 2. Dan kondisi fisik yang sudah cukup lelah.
Kami tidur cukup nyenyak malam itu, dengan sleeping bag yang cukup menghangatkan tubuh kami. Karena suhu yang cukup dingin, kami malas-malasan untuk bangun. Setelah sudah benar-benar sadar, kami membuat sarapan. Untunglah kami sempat membeli sarden sewaktu masih di Wates. Apapun makanannya, kalau disini apapun jadi nikmat. Pagi itu kami memulai hari dengan menyantap sarden nikmat tadi, dan kopi hangat.  Dengan pemandangan kembaran Sumbing, Gunung Sindoro yang begitu indah. Ternyata kami sudah berada di atas awan waktu, sangat memuaskan mata.
Pendakian kami lanjutkan sekitar pukul 7 pagi. Perjalanan di pagi hari ini terasa lebih ringan mungkin karena jalannya kelihatan dan istirahat yang lumayan cukup. Menuju Pos 3 Sedelupak Roto, yang berjarak 1 kilometer dari Pos 2, dengan trek yang masih menanjak.  Akhirnya kami sampai Pos 3 walaupun dengan banyak istirahat. Sampai di sana kami, hanya beberapa menit saja kami. Karena perjalan masih panjang. Dan puncak masih lama. Kami melanjutkan perjalanan kembali menuju Pestan yang berjarak 1 kilometer. Sejenak melihat peta, kami baru sadar, disinilah pendakian  yang sesungguhnya dimulai. Cukup menguras tenaga. Medan adalah tanah merah yang sangat licin dan berpasir. Karena sebagaimana tipe jalur pendakian pada umumnya yang berupa jalan air. Tapi disinilah fungsi teman, saling mengingatkan dan memberi motivasi. “Udah dekat kok, puncaknya kelihatan tuh…”  kata2 yang jelas keliatan bohongnya, tapi terbukti efektif menumbuhkan semangat. Alhamdulillah, tibalah kami di Pestan. Sebuah tempat lapang yang dipenuhi rerumputan hijau. Rawan badai dan tidak ada pepohonan atau batu yang bisa dijadikan sebagai penahan angin. Namun tetap banyak juga pendaki yang mendirikian tenda disini.
 Sekalipun kaki berat untuk melangkah, kami tetap berusaha meneruskan pendakian. Pasar watu adalah rintangan terakhir menuju Watu Kotak. Jalur masih tetap menanjak. Diawali dengan tanah merah, kemudian diikuti dengan bebatuan yang berserakan. Mungkin karena banyaknya batu yang berserakan, baik besar maupun kecil ini, maka tempat ini dinamakan Pasar Watu. Di tanjakan ini banyak pendaki yang mulai berguguran. Ada yang istirahat, duduk teramat lama, ada pula yang mulai mencari lubang2 di antara bebatuan buat rebahan. Setelah tanjakan habis, maka kami terhalang oleh sebuah bukit batu, jangan sampai mengambil jalan lurus, karena sesat dan menyesatkan. Tapi ikutilah arah panah menuju puncak, yaitu ke kiri, turun mengitari punggung bukit.  Dan di Watu Kotaklah ternyata puncak dari capek kami. Jam menunjukkan pukul 12 siang. Tenaga kami sudah terkuras habis. Sempat terpikir di benak kami untuk mengakhiri pendakian ini, dan cukup sampai Watu Kotak saja. 
Akhirnya setelah diskusi yang cukup lama, kami memutuskan untuk mendirikan tenda sementara, untuk tempat kami istirahat. kami mencari tempat yang cocok untuk mendirikan tenda. Dari sini kami belajar bahwa tak selamanya segala sesuatu itu bisa berjalan sesuai dengan apa yang kita rencanakan. Belajar menerima kekalahan. Boleh-boleh saja kita membuat berbagai rencana indah, tapi yakinlah bahwa apa yang Allah rencanakan bagi kita itu jauh lebih indah. Dan disinilah rombongan kami mendapat kenalan baru. Mereka dari Kartasura, Solo. Kami berencana untuk ke puncak bersama dengan mereka setelah tenaga sudah terkumpul kembali.
 “Ahhhhmmmm…..”  Astaga, sudah jam 3 sore. Bergegas aku membangunkan Panji untuk sholat  Ashar. Ternyata Iwan dan Ruli sudah sholat dari tadi. Sempat aku bermalas-malasan. Setelah selesai sholat, kami bersama rombongan dari Solo tadi melanjutkan perjalanan ke Puncak. Carier kami tinggal di tenda. Kami hanya membawa barang-barang seperlunya saja. Tentunya yang terpenting adalah air minum dan kamera, hehehe. Di sini kita akan menemui bunga edelweiss, kumpulan bunga yang akan selalu terlihat indah jika masih tetap pada tempatnya.
Tanah Putih adalah papan nama yang kita temui berikutnya. Sebuah jalan dengan tanah berwarna kekuning-kuningan, atau seperti gamping, dan bebatuan yang juga berwarna kuning. Harap berhati-hati, karena trek yang cukup licin. 100 meter sebelum puncak, kita disuguhi sebuah percabangan, lurus ke arah Puncak Buntu, atau belok kanan ke arah puncak Kawah. Tentu saja yang kami pilih adalah jalur kanan, jalur yang menuju Puncak Kawah. 
Wajah sumringah, menghapus rasa lelah, itulah sebuah ekspresi alamiah ketika tiba di puncak. Seolah-olah segala letih telah sirna diganti dengan sebuah landscape yang luar biasa indah. Kami telah tiba di puncak Kawah. Dari sini kami dengan bebas teriak memanggil pendaki lain yang ada di puncak Buntu. Dan disinilah kami mengeluarkan kamera kami. Narsis-narsis nggak jelas menghilangkan rasa lelah kami. Apeeesss! Tak lama kami tiba di puncak, kabut mulai menaik. Terdengar pula suara petir. Rintik-rintik hujan pun turun. Alhasil kami bergegas untuk turun ke Watu Kotak sebelum terjadi badai. Basah kuyup pun kami di perjalanan. Karena jalan cukup licin, banyak dari kami yang terpeleset.
Sampailah kami di tenda kami dengan tubuh yang menggigil. Segeralah kami ganti pakaian yang kering agar tidak terjadi hypothermia. Niatnya mau nunggu sunsed di puncak, ee dapetnya dingin yang kaya gini. Mungkin suhu waktu itu di bawah 15oC.  Segera kami dengan sigap memasak air, dan membuat sari jahe anget sari untuk menghangatkan tubuh kami. Ya emang untuk mengatasi dingin ini, Cuma makanan yang bisa mengurangi rasa dingin. Alhasil, mie instant pun kami lahap mentah-mentah. Hari pun mulai malam. Rencana pendakian yang cuma 2 hari pun jadinya harus 3 hari karena waktu yang sangat tidak memungkinkan. Malam pun mulai tiba. Untungnya hari itu banyak warga Desa Garung yang juga naik ke atas untuk bersih gunung. Kebetulan mereka mebuat api unggun. Tentu saja kami pun ikut bergabung dengan mereka.
Perlahan-lahan sinar matahari hari pagi mulai menyapa. Namun walaupun sudah pagi, dingin masih tetap terasa. Untung saja tadi malam kami tidur cukup lama karena suhu yang menusuk tubuh.  Dari sini terlihat  Sindoro yang masih tetap gagah menemani kami. Tentu saja dengan latar belakang Sindoro, menjadi tempat yang cocok untuk mengambil foto. Panji punya ide untuk membuat bubur dari beras sisa yang kami bawa. Karena gula kami tidak bawa, millo bubuk lah yang dia campur ke bubur itu. Memang kalau di Gunung itu apapun jadi enak. Kalau kami tidak menyantap bubur itu, tentunya kami tidak ada tenaga untuk turun ke basecamp.
Sekitar pukul setengah 8 pagi, kami bergegas membongkar tenda dan bergegas untuk turun. Perjalanan yang terasa lebih cepat dari waktu kami naik kemarin. Dari waktu mendaki dibutuhkan 8 jam waktu berjalan dari basecamp ke Watu Kotak. Namun untuk turun, kami hanya butuhwaktu 5 jam dari Watu Kotak ke basecamp. Tepat jam 1 kami sampai basecamp. Pendakian 3 hari yang cukup melelahkan. Namun cukup terhibur dengan pemandangan alam Indonesia yang begitu indah. Nikmati saja prosesnya, ambil hikmah dari pendakian ini.
Setelah istirahat, kami berkemas, pamitan sama bapak-bapak di basecamp dan pamitan juga sama temen-temen dari Solo tadi. Kami bersiap untuk pulang Wates. Sebelum berangkat kami berdoa dulu mengucap rasa syukur Kepada Sang Pencipta atas lindunnya selama pendakian, dan meminta keselamatan agar dapat pulang sampai rumah dengan selamat.  Tanggal 22 Juni 2014, pukul 5 sore kami sudah tiba di tanah kami tercinta, Wates.

Begitulah cerita pendakian kami. Terima kasih Sumbing, sudah memberikan kesan dan pelajaran tersendiri. Semoga suatu saat bisa bertemu kembali dengan cuaca yang lebih mendukung.

Puncak bukanlah tujuan utama, kita berangkat untuk pulang dengan selamat.
Catatan:
  • Jalur lama cukup landai, tapi tidak terdapat sumber air. Adapun jalur baru, hampir tidak ada bonus, tetapi terdapat sumber air (Pos 2). Lahan untuk camp lebih banyak di jalur lama.
  • Biaya administrasi: Rp 3000,-, retribusi air: Rp 1000,-, titip motor: Rp 5000,-, cas hp: Rp 1000,-, peta: Rp 3000,- Stiker Rp 3000,-, Gantungan Kunci: Rp 7000,-. Ada juga di jual  kaos untuk oleh-oleh di basecamp.
  •  Watu Kotak adalah lahan yang lebih aman untuk buka tenda daripada di Pestan. Lebih banyak pelindung dan lebih dekat dari puncak.

Beberapa foto dari pendakian Sumbing 20-22 Juni 2014: 



Bersama dengan para pendaki yang berasal dari Solo

Seorang anak umu 5 tahun asli warga garung yang hanya
membutuhkan  waktu 5 jam untuk sampai ke Watu Kotak


Peta Pendakian dari Garung

PEREISAI TAK TERLIHAT



Angin mulai berhembus dengan sejuknya. Menyapu lembut seluruh bagian tubuhku. Mataku tertutup, tanganku terbuka. Menikmati ciptaan Tuhan yang menyejukkan hati. Aku hanya ingin memfokuskan seluruh syaraf  otot yang ada di tubuhku, merasakan belaian sang angin. Belaian yang seakan membungkusku dengan pelukan erat. Sungguh, aku merasa aman.
           

                   Aku ingin menyatu dengan angin, mengikuti aliran sang angin. Untuk itu, aku mulai mengepakkan sayapku dengan pasti. Mengikuti aliran angin, agar aku bisa melayang terbang tinggi bersamanya. Agar rasa aman itu tak lekas hilang. Selalu memelukku dengan erat. “Hey!” Teriak seseorang dibelakangku, dan membuat mataku seketika perlahan terbuka. Dengan segenap hati, aku pun berpaling kearah suara manis itu. Sambil memberikan senyuman yang menyatu dengan kelembutan angin ini, aku merespon sapaan itu. “Hey juga!” Jawabku gugup.
            Dan saat itu juga, mataku terpana akan pesonanya. Warna-warni aura pada dirinya seakan menegaskan dia memang pelaku utama. Tak kan pernah  bosan memandangi campuran warna-warni itu. Bahkan, semakin aku mendalaminya. Aku semakin tertangkap akan pesonanya yang begitu luar biasa. Semakin ditelan akan warna-warni itu. Maklum saja, dia betina paling cantik di negeri ini.
            “Jangan bengong, ngeliatin apa hayo?” Tegurannya seakan menusuk pelan jantungku.
“E-eh engg-ga kok..”  Jawabku gugup sambil berpalingkan pandang dan berharap tingkah bodohku itu akan  tertelan bumi.
“Jalan bareng yuk?” Seketika juga mataku langsung kembali memandanginya. Mendengar ajakan yang sudah kutunggu sekian lama.
“Eehh ditanya malah bengong ni anak, mau kan?” Sebuah senyum mengikuti kalimat itu.
“Emmmm.. Iya dah aku nurut kamu aja”

Aku pun tertegun. Hentakan jantungku seakan setiap detik bertambah semakin kencang. Perlahan, kedua mukaku menjadi merah dan terasa semakin panas. Dan membuatku tersadar, aku telah terlalu lama menatap layar kosong. “Jadi,mau jalan kemana nih?” “Terserah kamu aja” Jawabnya dengan senyuman yang semakin membuat mukaku semakin merona.
Tiba-tiba sebuah hentakan keras di otakku. Dan seketika membangunkanku dari sebuah masa lalu yang tak kan pernah bisa terbang pergi dari benakku. Seakan waktu berjalan semakin melambat. Ternyata dia memang tak akan pernah hilang dari memori otakku yang tentunya lebih besar dari memori ponselku. Sebuah suara melengking yang membawaku kembali kepada filosofi.
Aku pun segera mengepakkan sayapku cepat. Kecepatan nafasku hampir menyamainya. Kembali mengikuti arus angin. Dan berharap tak akan pernah terbawa, dan tertinggal di belakang.  Aku pun mencoba untuk menutup tirai mataku. Berharap dapat merasakan kembali belaian tadi. Belaian yang membungkusku aman. Berusaha keras agar dapat menyatu kembali. Tak akan pernah lelah mengepakkan sayapku. Walau bulu-bulu semakin lama gugur satu demi satu. Terus menyatu dengan belaian angin. Lengkingan keras yang semakin keras ditelingaku. Seakan membuatku terbawa angin kebelakang. Aku berusaha keras agar tak terbawanya.
Tiba-tiba sebuah sengatan menusuk dan seakan membunuh sayap kananku. Sengatan itu semakin membunuh, semakin menyebar ke setiap titik syaraf yang semakin rapuh. Telingaku seperti mati, tak dapat mendengar teriakan deritaku ini. Aku semakin oleng. Tak ada lagi sepertinya keseimbangan tubuhku. Aku pun tak ingin jatuh sia-sia. Kepakan sayap kiriku semakin membabi buta. Lebih cepat dari angin yang tadi membelaiku. Dan berharap aku tak akan jatuh. Namun kalian tau, semua itu sia-sia saja.
“Akankah aku tak dapat terbang lagi?’
“Akankah aku tak dapat menikmati belaian angin lagi”
“Tidak..!”
“Aku tak mau berhenti sampai disini, aku ingin terus terbang bebas!”
“Kumohon, siapapun tolong aku!”
Tiba-tiba semua menjadi gelap. Aku tak dapat merasakan sakitku tadi. Seketika juga aku mendengar sebuah suara yang aku tak tau asalnya. 
“Tenanglah, nak! Setelah ini kau akan dapat bisa kembali terbang lagi. Kau akan bisa merasakan belaian anginku, yang membuatmu terbungkus aman. Kepakan sayapmu akan terasa semakin ringan dari sebelumnya. Kau akan terbang bebas dan merasa sangat bahagia
Tiba-tiba aku kembali merasakan tiupan sebuah angin suci. Yang mebuatku kembali terbungkus sebuah perisai tak terlihat. Namun yang satu ini, kurasakan lebih aman dari yang sebelumnya. Angin yang begitu sejuk, membuat bulu-buluku terbuai hebat. Sebuah cahaya putih bersinar diujung sana. Dan kuyakin itu asal dari angin ini. Aku pun mengepakkan sayapku dan mendatangi cahaya itu. Ia semakin besar, dan semakin terang. Seakan memenuhi seisi sudut ruangan penglihatanku. Seketika juga kepakan sayapku semakin melebihi irama sebelumnya.

“Ini kah angin yang Dia tadi katakan…………”