PEREISAI TAK TERLIHAT



Angin mulai berhembus dengan sejuknya. Menyapu lembut seluruh bagian tubuhku. Mataku tertutup, tanganku terbuka. Menikmati ciptaan Tuhan yang menyejukkan hati. Aku hanya ingin memfokuskan seluruh syaraf  otot yang ada di tubuhku, merasakan belaian sang angin. Belaian yang seakan membungkusku dengan pelukan erat. Sungguh, aku merasa aman.
           

                   Aku ingin menyatu dengan angin, mengikuti aliran sang angin. Untuk itu, aku mulai mengepakkan sayapku dengan pasti. Mengikuti aliran angin, agar aku bisa melayang terbang tinggi bersamanya. Agar rasa aman itu tak lekas hilang. Selalu memelukku dengan erat. “Hey!” Teriak seseorang dibelakangku, dan membuat mataku seketika perlahan terbuka. Dengan segenap hati, aku pun berpaling kearah suara manis itu. Sambil memberikan senyuman yang menyatu dengan kelembutan angin ini, aku merespon sapaan itu. “Hey juga!” Jawabku gugup.
            Dan saat itu juga, mataku terpana akan pesonanya. Warna-warni aura pada dirinya seakan menegaskan dia memang pelaku utama. Tak kan pernah  bosan memandangi campuran warna-warni itu. Bahkan, semakin aku mendalaminya. Aku semakin tertangkap akan pesonanya yang begitu luar biasa. Semakin ditelan akan warna-warni itu. Maklum saja, dia betina paling cantik di negeri ini.
            “Jangan bengong, ngeliatin apa hayo?” Tegurannya seakan menusuk pelan jantungku.
“E-eh engg-ga kok..”  Jawabku gugup sambil berpalingkan pandang dan berharap tingkah bodohku itu akan  tertelan bumi.
“Jalan bareng yuk?” Seketika juga mataku langsung kembali memandanginya. Mendengar ajakan yang sudah kutunggu sekian lama.
“Eehh ditanya malah bengong ni anak, mau kan?” Sebuah senyum mengikuti kalimat itu.
“Emmmm.. Iya dah aku nurut kamu aja”

Aku pun tertegun. Hentakan jantungku seakan setiap detik bertambah semakin kencang. Perlahan, kedua mukaku menjadi merah dan terasa semakin panas. Dan membuatku tersadar, aku telah terlalu lama menatap layar kosong. “Jadi,mau jalan kemana nih?” “Terserah kamu aja” Jawabnya dengan senyuman yang semakin membuat mukaku semakin merona.
Tiba-tiba sebuah hentakan keras di otakku. Dan seketika membangunkanku dari sebuah masa lalu yang tak kan pernah bisa terbang pergi dari benakku. Seakan waktu berjalan semakin melambat. Ternyata dia memang tak akan pernah hilang dari memori otakku yang tentunya lebih besar dari memori ponselku. Sebuah suara melengking yang membawaku kembali kepada filosofi.
Aku pun segera mengepakkan sayapku cepat. Kecepatan nafasku hampir menyamainya. Kembali mengikuti arus angin. Dan berharap tak akan pernah terbawa, dan tertinggal di belakang.  Aku pun mencoba untuk menutup tirai mataku. Berharap dapat merasakan kembali belaian tadi. Belaian yang membungkusku aman. Berusaha keras agar dapat menyatu kembali. Tak akan pernah lelah mengepakkan sayapku. Walau bulu-bulu semakin lama gugur satu demi satu. Terus menyatu dengan belaian angin. Lengkingan keras yang semakin keras ditelingaku. Seakan membuatku terbawa angin kebelakang. Aku berusaha keras agar tak terbawanya.
Tiba-tiba sebuah sengatan menusuk dan seakan membunuh sayap kananku. Sengatan itu semakin membunuh, semakin menyebar ke setiap titik syaraf yang semakin rapuh. Telingaku seperti mati, tak dapat mendengar teriakan deritaku ini. Aku semakin oleng. Tak ada lagi sepertinya keseimbangan tubuhku. Aku pun tak ingin jatuh sia-sia. Kepakan sayap kiriku semakin membabi buta. Lebih cepat dari angin yang tadi membelaiku. Dan berharap aku tak akan jatuh. Namun kalian tau, semua itu sia-sia saja.
“Akankah aku tak dapat terbang lagi?’
“Akankah aku tak dapat menikmati belaian angin lagi”
“Tidak..!”
“Aku tak mau berhenti sampai disini, aku ingin terus terbang bebas!”
“Kumohon, siapapun tolong aku!”
Tiba-tiba semua menjadi gelap. Aku tak dapat merasakan sakitku tadi. Seketika juga aku mendengar sebuah suara yang aku tak tau asalnya. 
“Tenanglah, nak! Setelah ini kau akan dapat bisa kembali terbang lagi. Kau akan bisa merasakan belaian anginku, yang membuatmu terbungkus aman. Kepakan sayapmu akan terasa semakin ringan dari sebelumnya. Kau akan terbang bebas dan merasa sangat bahagia
Tiba-tiba aku kembali merasakan tiupan sebuah angin suci. Yang mebuatku kembali terbungkus sebuah perisai tak terlihat. Namun yang satu ini, kurasakan lebih aman dari yang sebelumnya. Angin yang begitu sejuk, membuat bulu-buluku terbuai hebat. Sebuah cahaya putih bersinar diujung sana. Dan kuyakin itu asal dari angin ini. Aku pun mengepakkan sayapku dan mendatangi cahaya itu. Ia semakin besar, dan semakin terang. Seakan memenuhi seisi sudut ruangan penglihatanku. Seketika juga kepakan sayapku semakin melebihi irama sebelumnya.

“Ini kah angin yang Dia tadi katakan…………”