The Real Adventure (Sumbing 3371 Mdpl)
Kisah ini terinspirasi dari pengalaman
pribadiku yang mungkin tidak akan pernah terlupakan sepanjang hidup. Kisah yang
membuatku semakin cinta akan Tanah Air Tercinta, Indonesia. Kisah yang
membuatku semakin menghargai alam. Ketika orang bertanya; “Apa si untungnya
mendaki? Buang-buang waktu saja.” Mereka cuma belum merasakan betapa asiknya
mendaki itu. Kaki yang akan melangkah lebih lama dari biasanya, punggung yang
akan menahan beban lebih berat dari biasanya, serta mulut yang akan selalu
memanjatkan doa. Kebersamaan, team work, jiwa pemimpin, semua nampak jelas.
Kisah ini berawal dari obrolan ringan
dengan temanku saat di sekolah. Sebelumnya dia pernah mendaki Gunung Merbabu.
Dia bercerita tentang pendakiannya. Oh iya, nama temanku itu Panji. Aku pun tertarik
dengan ceritanya. Akhirnya setelah beberapa waktu kami berbicara, timbulah ide
di benak kami untuk melakukan pendakian. Sebenaranya saat itu aku Cuma
ngikut-ngikut aja si mau mendaki beneran
apa enggak.
Saat sampai rumah, hapeku bordering
tanda ada sms masuk. Dan benar itu dari Panji. Kurang lebih begini isinya “Pie
koe fix ndaki to? Iki rencana arep munggah Sumbing.” Yang dalam bahasa
Indonesianya; “Fix jadi ikut mendaki kan? Ini rencana mau naik Sumbing.” Dalam
hati sedikit ragu aku untuk meng-iyakan ajakannya. Tapi setelah aku pikir-pikir
seru juga habis setres-setres dengan Ujian Kenaikan Kelas Kemarin, apa salahnya
buat me-refresh otak dengan suasana yang alam banget. Oke, aku putuskan untuk
meng-iyakan ajakan itu. Rencana pendakian tanggal 20-21 Juni 2014. Masih ada
waktu sekitar seminggu lebih untuk mempersiapkannya. Baik siap-siap fisik,
maupun ongkos. Rencananya, ada 6 orang termasuk aku yang akan ikut. Satu
temanku Panji tadi, dan yang 4 kalau tidak salah alumni sekolahku. Sehari sebelum hari H, ternyata yang fix
berangkat Cuma 4 orang. Yang terdiri dari aku sendiri Ivan Andika, Panji
Krisna, Iwan Gecol, dan yang terakhir Ruli Pete.
Jam 1 kami kumpul di tempat Iwan, dan
jam 2 kami berangkat ke Garung, basecamp pendakian Sumbing, Wonosobo.
Jogja-Wonosobo kami tempuh selama kurang lebih 4 jam, menggunakan sepeda motor.
Jam 2 berangkat, dan jam 6 kami sudah sampai di basecamp. Sampai disana
langsung sholat magrib. Berhubung agamaku Katolik, aku ditugaskan untuk menjaga
barang-barang bawaan kami. Setelah salat, kami sarapan dulu di basecamp. Nasi
goreng, menu kami waktu itu. Rehat-rehat sejenak sebelum berjuang
habisan-habisan mencapai puncak. Setelah selesai makan, Iwan mebayar biaya
retribusi masuk kepada petugas.
Waktu menunjukkan pukul 19.45 WIB.
Kami bergegas untuk ke depan basecamp, dan segera memulai pendakian. Sebelum
pendakian dimulai, doa terlebih dahulu diwajibkan agar pendakian berjalan
dengan lancar dan selamat. Moto kami waktu itu; “Jangan mengambil apapun
kecuali gambar(foto), Jangan membunuh apapun kecuali waktu, Jangan meninggalkan
apapun kecuali jejak.” Dan tambahan motoku sendiri; “Puncak bukanlah tujuan
utama, kami berangkat untuk kembali pulang dengan selamat.” Kami memulai
perjalanan sekitar pukul 8 malem, menggunakan Jalur Lama. Fyi, di Sumbing ini
ada 2 jalur, yaitu Jalur Baru dan Jalur Lama yang nantinya bertemu di Pestan. Tujuan pertama kami adalah Pos 1, yang
kira-kira berjarak 3 km dari Basecamp dari total 7 km hingga Puncak Sumbing.
Cukup Panjang. Kami melewati pemukiman penduduk, ladang yang berisi
sayuran kubis, sawi, dan tanaman-tanaman yang hidup di daerah dingin hingga
kilometer 2. Rute ini berupa jalanan batu yang rapi, karena merupakan jalan petani
juga. Selama melintasi ladang petani ini mungkin kami berhenti lebih dari 3
kali. Namanya juga pendakian kurang persiapan fisiknya. Si Ruli Pete juga udah
mulai ngerasa sesak nafasnya. Tak
selang berapa lama setelah kami mengakhiri jalan batu, kami mulai memasuki
jalanan tanah dengan tanjakan yang mulai kerasa. Satu yang ada di benak kala
itu; “Pos 1 mana ini, nggak nyampai-nyampai.” Dan alhamdulillah setelah
melewati 3 atau 4 tanjakan, kami pun tiba di Pos 1 Malim. Di pos 1 kami istirahat sejenak. Tak lama kami
berada di Pos1, hanya minum seperlunya kemudian bergegas untuk melanjutkan
pendakian menuju Pos 2.
Pendakian terasa sangat berat dengan
trek yang nanjak terus mulai dari basecamp tadi. Emang trek Sumbing nggak bisa bohong, sedikit sekali jalan landai di
sini yang kami sebut bonus. Kami pun sering berhenti di antara pepohonan.
Untungnya cuaca saat itu cukup bersahabat, tidak ada kabut yang menutupi rute
pendakian. Kami menuju Pos 2 Genus yang
berjarak sekitar 1 kilometer dar Pos 1, dengan menapaki jalan tanah yang
sudah dibentuk seperti tangga. Istirahat sebentar, cek peta, kemudian kami
langsung meneruskan pendakian. Sampai sudah kami di Pos 2 Genus. Disana
kami bertemu Mapala dari UMS Solo yang sedang ngecamp. Kami pun memutuskan
untuk mendirikan tenda disana juga, mengingat sudah pukul 12 malam kami sampai
di Pos 2. Dan kondisi fisik yang sudah cukup lelah.
Kami tidur cukup nyenyak malam itu,
dengan sleeping bag yang cukup menghangatkan tubuh kami. Karena suhu yang cukup
dingin, kami malas-malasan untuk bangun. Setelah sudah benar-benar sadar, kami
membuat sarapan. Untunglah kami sempat membeli sarden sewaktu masih di Wates.
Apapun makanannya, kalau disini apapun jadi nikmat. Pagi itu kami memulai hari
dengan menyantap sarden nikmat tadi, dan kopi hangat. Dengan pemandangan kembaran Sumbing, Gunung
Sindoro yang begitu indah. Ternyata kami sudah berada di atas awan waktu,
sangat memuaskan mata.
Pendakian kami lanjutkan sekitar pukul
7 pagi. Perjalanan di pagi hari ini terasa lebih ringan mungkin karena jalannya
kelihatan dan istirahat yang lumayan cukup. Menuju Pos 3 Sedelupak Roto,
yang berjarak 1 kilometer dari Pos 2, dengan trek yang masih menanjak. Akhirnya kami sampai Pos 3 walaupun
dengan banyak istirahat. Sampai di sana kami, hanya beberapa menit saja kami.
Karena perjalan masih panjang. Dan puncak masih lama. Kami melanjutkan
perjalanan kembali menuju Pestan yang berjarak 1 kilometer. Sejenak
melihat peta, kami baru sadar, disinilah pendakian yang sesungguhnya dimulai. Cukup menguras
tenaga. Medan adalah tanah merah yang sangat licin dan berpasir. Karena
sebagaimana tipe jalur pendakian pada umumnya yang berupa jalan air. Tapi
disinilah fungsi teman, saling mengingatkan dan memberi motivasi. “Udah dekat kok,
puncaknya kelihatan tuh…” kata2
yang jelas keliatan bohongnya, tapi terbukti efektif menumbuhkan semangat.
Alhamdulillah,
tibalah kami di Pestan. Sebuah tempat lapang yang dipenuhi rerumputan
hijau. Rawan badai dan tidak ada pepohonan atau batu yang bisa dijadikan
sebagai penahan angin. Namun tetap banyak juga pendaki yang mendirikian
tenda disini.
Sekalipun kaki berat untuk melangkah, kami tetap berusaha
meneruskan pendakian. Pasar watu adalah rintangan terakhir menuju Watu Kotak.
Jalur masih tetap menanjak. Diawali dengan tanah merah, kemudian diikuti dengan
bebatuan yang berserakan. Mungkin karena banyaknya batu yang berserakan, baik
besar maupun kecil ini, maka tempat ini dinamakan Pasar Watu. Di
tanjakan ini banyak pendaki yang mulai berguguran. Ada yang istirahat, duduk
teramat lama, ada pula yang mulai mencari lubang2 di antara bebatuan buat
rebahan. Setelah tanjakan habis, maka kami terhalang oleh sebuah bukit
batu, jangan sampai mengambil jalan lurus, karena sesat dan menyesatkan. Tapi
ikutilah arah panah menuju puncak, yaitu ke kiri, turun mengitari punggung bukit. Dan di Watu Kotaklah ternyata puncak dari capek
kami. Jam menunjukkan pukul 12 siang. Tenaga kami sudah terkuras habis. Sempat
terpikir di benak kami untuk mengakhiri pendakian ini, dan cukup sampai Watu
Kotak saja.
Akhirnya setelah diskusi yang cukup lama, kami memutuskan untuk
mendirikan tenda sementara, untuk tempat kami istirahat. kami mencari tempat
yang cocok untuk mendirikan tenda. Dari sini kami belajar bahwa tak selamanya
segala sesuatu itu bisa berjalan sesuai dengan apa yang kita rencanakan.
Belajar menerima kekalahan. Boleh-boleh saja kita membuat berbagai rencana
indah, tapi yakinlah bahwa apa yang Allah rencanakan bagi kita itu jauh lebih
indah. Dan disinilah rombongan kami mendapat kenalan baru. Mereka dari
Kartasura, Solo. Kami berencana untuk ke puncak bersama dengan mereka setelah
tenaga sudah terkumpul kembali.
“Ahhhhmmmm…..” Astaga,
sudah jam 3 sore. Bergegas aku membangunkan Panji untuk sholat Ashar. Ternyata Iwan dan Ruli sudah sholat
dari tadi. Sempat aku bermalas-malasan.
Setelah selesai sholat, kami bersama rombongan dari Solo tadi melanjutkan
perjalanan ke Puncak. Carier kami tinggal di tenda. Kami hanya membawa barang-barang
seperlunya saja. Tentunya yang terpenting adalah air minum dan kamera, hehehe. Di
sini kita akan menemui bunga edelweiss, kumpulan bunga yang akan selalu
terlihat indah jika masih tetap pada tempatnya.
Tanah Putih adalah papan nama yang
kita temui berikutnya. Sebuah jalan dengan tanah berwarna kekuning-kuningan,
atau seperti gamping, dan bebatuan yang juga berwarna kuning. Harap berhati-hati,
karena trek yang cukup licin. 100 meter sebelum puncak, kita disuguhi sebuah
percabangan, lurus ke arah Puncak Buntu, atau belok kanan ke arah puncak Kawah.
Tentu saja yang kami pilih adalah jalur kanan, jalur yang menuju Puncak Kawah.
Wajah sumringah, menghapus
rasa lelah, itulah sebuah ekspresi alamiah ketika tiba di puncak. Seolah-olah
segala letih telah sirna diganti dengan sebuah landscape yang luar biasa indah.
Kami telah tiba di puncak Kawah. Dari sini kami dengan bebas teriak memanggil
pendaki lain yang ada di puncak Buntu. Dan disinilah kami mengeluarkan
kamera kami. Narsis-narsis nggak jelas menghilangkan rasa lelah kami. Apeeesss!
Tak lama kami tiba di puncak, kabut mulai menaik. Terdengar pula suara petir.
Rintik-rintik hujan pun turun. Alhasil kami bergegas untuk turun ke Watu Kotak
sebelum terjadi badai. Basah kuyup pun kami di perjalanan. Karena jalan cukup licin,
banyak dari kami yang terpeleset.
Sampailah
kami di tenda kami dengan tubuh yang menggigil. Segeralah kami ganti pakaian
yang kering agar tidak terjadi hypothermia. Niatnya mau nunggu sunsed di
puncak, ee dapetnya dingin yang kaya gini. Mungkin suhu waktu itu di bawah 15oC.
Segera kami dengan sigap memasak air,
dan membuat sari jahe anget sari untuk menghangatkan tubuh kami. Ya emang untuk
mengatasi dingin ini, Cuma makanan yang bisa mengurangi rasa dingin. Alhasil,
mie instant pun kami lahap mentah-mentah. Hari pun mulai malam. Rencana
pendakian yang cuma 2 hari pun jadinya harus 3 hari karena waktu yang sangat
tidak memungkinkan. Malam pun mulai tiba. Untungnya hari itu banyak warga Desa
Garung yang juga naik ke atas untuk bersih gunung. Kebetulan mereka mebuat api
unggun. Tentu saja kami pun ikut bergabung dengan mereka.
Perlahan-lahan
sinar matahari hari pagi mulai menyapa. Namun walaupun sudah pagi, dingin masih
tetap terasa. Untung saja tadi malam kami tidur cukup lama karena suhu yang
menusuk tubuh. Dari sini terlihat Sindoro yang masih tetap gagah menemani kami.
Tentu saja dengan latar belakang Sindoro, menjadi tempat yang cocok untuk
mengambil foto. Panji punya ide untuk membuat bubur dari beras sisa yang kami
bawa. Karena gula kami tidak bawa, millo bubuk lah yang dia campur ke bubur
itu. Memang kalau di Gunung itu apapun jadi enak. Kalau kami tidak menyantap
bubur itu, tentunya kami tidak ada tenaga untuk turun ke basecamp.
Sekitar
pukul setengah 8 pagi, kami bergegas membongkar tenda dan bergegas untuk turun.
Perjalanan yang terasa lebih cepat dari waktu kami naik kemarin. Dari waktu
mendaki dibutuhkan 8 jam waktu berjalan dari basecamp ke Watu Kotak. Namun untuk
turun, kami hanya butuhwaktu 5 jam dari Watu Kotak ke basecamp. Tepat jam 1
kami sampai basecamp. Pendakian 3 hari yang cukup melelahkan. Namun cukup terhibur
dengan pemandangan alam Indonesia yang begitu indah. Nikmati saja prosesnya,
ambil hikmah dari pendakian ini.
Setelah istirahat, kami berkemas, pamitan
sama bapak-bapak di basecamp dan pamitan juga sama temen-temen dari Solo tadi. Kami
bersiap untuk pulang Wates. Sebelum berangkat kami berdoa dulu mengucap rasa
syukur Kepada Sang Pencipta atas lindunnya selama pendakian, dan meminta
keselamatan agar dapat pulang sampai rumah dengan selamat. Tanggal 22 Juni 2014, pukul 5 sore kami sudah
tiba di tanah kami tercinta, Wates.
Begitulah
cerita pendakian kami. Terima kasih Sumbing, sudah memberikan kesan dan
pelajaran tersendiri. Semoga suatu saat bisa bertemu kembali dengan cuaca yang
lebih mendukung.
Puncak bukanlah tujuan utama, kita berangkat untuk pulang dengan selamat.
Catatan:
- Jalur lama cukup landai, tapi tidak terdapat
sumber air. Adapun jalur baru, hampir tidak ada bonus, tetapi terdapat
sumber air (Pos 2). Lahan untuk camp lebih banyak di jalur lama.
- Biaya administrasi: Rp 3000,-, retribusi air:
Rp 1000,-, titip motor: Rp 5000,-, cas hp: Rp 1000,-, peta: Rp 3000,-
Stiker Rp 3000,-, Gantungan Kunci: Rp 7000,-. Ada juga di jual kaos untuk oleh-oleh di basecamp.
- Watu
Kotak adalah lahan yang lebih aman untuk buka tenda daripada di Pestan.
Lebih banyak pelindung dan lebih dekat dari puncak.
Beberapa foto dari pendakian Sumbing 20-22 Juni 2014:
Puncak bukanlah tujuan utama, kita berangkat untuk pulang dengan selamat.
![]() |
| Bersama dengan para pendaki yang berasal dari Solo |
![]() |
| Seorang anak umu 5 tahun asli warga garung yang hanya membutuhkan waktu 5 jam untuk sampai ke Watu Kotak |
![]() |
| Peta Pendakian dari Garung |












